"masak sih dulu kita hanya teman?" kau memilih pertanyaan itu, kau awali sebuah pertanyaan setelah ratusan hari berlalu, sempurna dengan kalimatmu setelahya. "dengan aku yang selalu ada di saat kamu butuhkan". aku biarkan kamu dengan kalimat-kalimat yang kamu lontarkan kepadaku, membiarkanmu bernostalgia dengan masa lalu yang seharusnya kamu tinggalkan itu sejak lama, aku benar-benar mencerna dan memahami sekali lagi. seperti gunung berapi yang dengan asap tebal, kamu terlalu memuntahkan segala yang ada di kepalamu, berapi-api tanpa jeda, aku kebagian asapnya sesak nafas mendengarnya. bukan karena membuka luka lama, bukan karena kenapa semua ini terlambat, bukan juga karena dia laki-laki pertama yang mengabadikan aku di puisinya, tapi sungguh aku sudah berdamai. sialan, aku mati matian mencerna sekali lagi, bersama orang lama.
sebuah kemungkinan yang tidak pernah bisa kita lihat dulu, aku menatapmu bingung, super bingung, kenapa hal ini jadi seperti terlihat kesalahan yang dulu tidak seperti kesalahan, nostalgia yang saling kita lempar ternyata seseru itu ya, dulu. berjalan di jalan masing-masing dengan kebingungan, saling menerka-nerka sendiri, saling menyimpulkan sendiri, saling menertawakan komedi yang terlalu dibalut dengan kebodohan itu sekarang–berhadapan.
aku mau mematahkan pepatah bahwa masa lalu akan selalu menang, beribukali kata seandainya, seratus kali membatin penyesalan, percayalah percaya deh dengan orang baru kamu akan mendapatkan keseruan-keseruan yang lain.
petang itu menyenangkan, tuhan seperti menunjukkan kuasanya, memberiku hadiah pengakuan dari seorang yang pernah, hatiku seperti semakin melebar, senang sudah pernah menjadi bagiannya dan senang tidak lagi menjadi bebannya. segala penerimaan akan menyapu bersih khawatir, tak ada janji tertulis akan bahagia. tuhan, yang paling tau garis takdir dan aku semakin paham akan garis tuhan untukku.