duduk sebentar – bu, sebagaimana doa-doamu dulu, yang selalu diselipkan dibalik salimku ketika pergi menyiapkanmasa depan yang mandiri, sungguh di hati besarku inginku melihat engkau hidup dengan usia tua yang damai, tapi sayangnya pulangmu terlalu cepat, terlalu buru-buru, kalau saja sekarang masih ada sudah aku teraktir makan, aku bawa jalan-jalan ke teman masa kecilmu untuk bernostalgia lalu pulang denggan nanas kesukaanmu. tuh kan, 1000 hari berlalu aku masih saja buruk, selalu berandai “kalau saja ibu masih ada”. ini bukannya belum ikhlas karena aku tau kepergianmu takdir yang tepat, aku tau enkau sudah tenang disana, tapi maaf ya bu kalau tiba-tiba berubah jadi anak yang munafik, karena sungguh aku masih ingin teraktir makan dan jalan-jalan.
bu, aku mau lebih baik. aku mau jadi yang paling mengerti keaadaan di rumah setelah engkau tidak ada. 1000 hari berlalu, peranku buruk sekali di rumah, kalau nanti masih terlintas kata “kalau saja ibu masih ada” aku mau tepis pelan-pelan dulu. aku mau mencoba siap dibiarkan sendirian menghadapi semuanya, yang terpaksa redup akan aku hidupkan lagi pelan-pelan. aku mau kembali jadi putri kecil bapak yang banyak tanya lagi, kembali meramaikan rumah.
bu, 1000 hari berlalu engkau terlalu memberi banyak pelajaran kepadaku, aku pusing. belum lagi aku di gebukin rindu setiap saat, doa-doaku mampu mengurai rinduku, semoga sampai sana. damai di alam barzah bu, nanti sama-sama ke surgaNya.