Rentetan takdir dan basa basinya

dari rentetan basa-basiku, dari tulisan sedihku, aku lebih banyak senangnya kök.
Kalau yang di bicarakan adalah hidup–kehidupan manusia tidak akan ada habisnya ya, diantara makluk-makluk Allah, hanya manusia yang diberikan perasaan dan logika, dan aku sebagai manusia yang perasa sering kerepotan sendiri, dalam keadaan ketawa paling bahagia bisa tiba-tiba berubah sedih dengan melihat kucing jalan sendiri di pinggir jalan, bisa tiba-tiba rasanya sesak, ah aku benci di bagian ini, aku manusia jarang keluar air mata, lebih sering merasakan sesak dan ini lebih menyakitkan, harus jadi manusia yg tiba-tiba mau nafas aja harus diatur dulu supaya tidak ada yg terasa berat, beruntunglah kamu yang bisa dengan mudahnya keluar air mata, karena aku tau rasanya setelah semua tumpah lalu lega. 

Aku sering berandai-andai jadi sapi, semut, panda, kucing apapun hewan yang kelihatan mata, aku kadang juga berfikir apa aku punya kepribadian ganda, atau aku sebenarnya ada lima haha, tapi sejauh ini tidak terfikir aku butuh bantuan psikolog atau psikiater. dengan membeli kopi yang harganya puluhan ribu, yang padahal kalau beli nasi goreng yg harganya setara dengan kopi bisa ngomel-ngomel—kok bisa sih dimasak pakai minyak permata huh. oke lanjut–lalu duduk bengong saja aku bisa tiba-tiba menjadi manusia paling beruntung di bumi, makanya di usia sekarang belum bisa beli rumah kayak Kaluna, karena bukannya nabung, tapi buat beli kopi hehe.
itu kopingku, kita perlu punya dan tau koping kita masing-masing, hidup di era sekarang sehari tanpa kamu berfikir akan mengakhiri hidup saja itu lebih dari cukup, kamu bisa tidur dengan cepat dan nyenyak setiap hari itu lebih dari cukup. 

dari rentetan basa-basiku, dari tulisan sedihku, aku lebih banyak senangnya kök. as simple aku bersebelahan di lampu merah dengan sepeda yang isinya bapak,ibu dan anak kecilnya, aku bisa dengan mudahnya melupakan sedih. 
sejak bertemu dengan buku filosofi teras aku belajar menjadi manusia stoicism pemikiran seorang fisuf yunani yang masih releteble dengan era sekarang, belajar merubah hal yang bisa di kendalikan, yang tidak bisa kita kendalikan–sisanya di buat santai. perihal perjalanan hidup itu ranah Allah, ranah manusia adalah berusaha tetap hidup. sekeras apapun mengendalikan yang bukan ranah manusia, ya pecuma. tapi di bagian ini jangan salah paham, karena manusia juga perlu ikut campur dalam takdirNya, ikhtiar dan doa bagian dari takdirNya, ketetapan adalah ranahNya, memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya adalah tugas manusia dengan berbenah bukan menyalakan keadaan.

Posting Komentar

Tinggalkan jejak disini :)
Posting Komentar